1 Mei 2014
Satu Mei.
Hari ini adalah Hari Buruh Satu Mei.
Kawan-kawan Buruh dalam jumlah ratusan ribu berpawai diberbagai kota diseluruh Tanah Air, menunjukkan keperkasaan Buruh bersatu, sambil mengumandangkan tuntutan para Buruh untuk perbaikan nasib dan kwalitas hidup. Tuntutan itu pada intinya adalah kenaikan upah, yang setiap tahun tambah meningkat.
Namun nasib Buruh sejak dahulu ya begitu-begitu saja bahkan dengan adanya pertambahan penduduk kecenderungannya akan makin memburuk. Apa sebabnya ?
Seandainya Pemerintah pro Buruh dan upah buruh minimum dinaikkan, maka sebelum para buruh menikmati kenaikan upah itu, harga-harga barang kebutuhan sehari-hari sudah mendahului naik, sehingga kebutuhan buruh lagi-lagi tidak tercukupi. Maka bagaimana untuk mengatasinya ?
Strategi Pembangunan Pemerintah haruslah dirubah. Kalau saat ini Pemerintah selalu berkutat untuk bisa memenuhi tuntutan Buruh akan kenaikan upah, yang selalu tidak dapat mengejar kenaikan harga-harga kebutuhan sehari-hari, mengapa tidak diarahkan ke sebaliknya ?
Apabila harga-harga barang terutama kebutuhan pokok dapat diturunkan, maka upah buruh yang dipatok dengan tingkat UMK/UMP saat ini akan relatif bertambah nilainya. Untuk mencapai hal itu diperlukan prakarsa pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan (Pertanian, Peternakan, Perikanan) dengan besar-besaran. Tentu dalam hal ini Pemerintah yang akan datang perlu menyertakan modal, mengerahkan BUMN-2 , melakukan kontrol yang sangat ketat dan turun kebawah (Turba) agar tidak terjadi penyelewengan dan korupsi dalam pelaksanaannya. Subsidi dibidang produksi Pangan tersebut harus dilaksanakan dengan intensif. Kebutuhan pokok yang lain adalah sandang, sehingga disinipun Pemerintah harus turun tangan dan memberikan subsidi dan penyertaan modal maupun managegment.
Tentang pelaksanaan teknisnya tentulah dapat dibahas lebih lanjut secara rinci, termasuk perhitungan-perhitungan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri agar sedapat mungkin menghindarkan impor kedelai misalnya.
Namun Bangsa yang besar ini tentu mampu untuk bangkit dan membangun Negara Indonesia yang Adil dan Makmur, asalkan menempuh strategi yang tepat.
Merdeka !
Satu Mei.
Hari ini adalah Hari Buruh Satu Mei.
Kawan-kawan Buruh dalam jumlah ratusan ribu berpawai diberbagai kota diseluruh Tanah Air, menunjukkan keperkasaan Buruh bersatu, sambil mengumandangkan tuntutan para Buruh untuk perbaikan nasib dan kwalitas hidup. Tuntutan itu pada intinya adalah kenaikan upah, yang setiap tahun tambah meningkat.
Namun nasib Buruh sejak dahulu ya begitu-begitu saja bahkan dengan adanya pertambahan penduduk kecenderungannya akan makin memburuk. Apa sebabnya ?
Seandainya Pemerintah pro Buruh dan upah buruh minimum dinaikkan, maka sebelum para buruh menikmati kenaikan upah itu, harga-harga barang kebutuhan sehari-hari sudah mendahului naik, sehingga kebutuhan buruh lagi-lagi tidak tercukupi. Maka bagaimana untuk mengatasinya ?
Strategi Pembangunan Pemerintah haruslah dirubah. Kalau saat ini Pemerintah selalu berkutat untuk bisa memenuhi tuntutan Buruh akan kenaikan upah, yang selalu tidak dapat mengejar kenaikan harga-harga kebutuhan sehari-hari, mengapa tidak diarahkan ke sebaliknya ?
Apabila harga-harga barang terutama kebutuhan pokok dapat diturunkan, maka upah buruh yang dipatok dengan tingkat UMK/UMP saat ini akan relatif bertambah nilainya. Untuk mencapai hal itu diperlukan prakarsa pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan (Pertanian, Peternakan, Perikanan) dengan besar-besaran. Tentu dalam hal ini Pemerintah yang akan datang perlu menyertakan modal, mengerahkan BUMN-2 , melakukan kontrol yang sangat ketat dan turun kebawah (Turba) agar tidak terjadi penyelewengan dan korupsi dalam pelaksanaannya. Subsidi dibidang produksi Pangan tersebut harus dilaksanakan dengan intensif. Kebutuhan pokok yang lain adalah sandang, sehingga disinipun Pemerintah harus turun tangan dan memberikan subsidi dan penyertaan modal maupun managegment.
Tentang pelaksanaan teknisnya tentulah dapat dibahas lebih lanjut secara rinci, termasuk perhitungan-perhitungan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri agar sedapat mungkin menghindarkan impor kedelai misalnya.
Namun Bangsa yang besar ini tentu mampu untuk bangkit dan membangun Negara Indonesia yang Adil dan Makmur, asalkan menempuh strategi yang tepat.
Merdeka !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar